Segudang Penghargaan yang Diterima Semasa Hidup, Disayang dan Dihormati hingga Akhir Hayatnya: Tjong Yong Hian Series (4) - Perhimpunan Hakka Indonesia Sejahtera

Segudang Penghargaan yang Diterima Semasa Hidup, Disayang dan Dihormati hingga Akhir Hayatnya: Tjong Yong Hian Series (4)

Meski tidak pernah menempuh ujian negara atau pendidikan resmi kekaisaran, Tjong Yong Hian menerima sejumlah penghargaan dan gelar kehormatan dari Pemerintah Qing, kekaisaran terakhir Tiongkok untuk kontribusi sosialnya di China. Pada tahun 1903, beliau menerima dekrit kekaisaran yang mengizinkannya menempatkan sebuah batu berharga pada bagian atas topinya sebagai simbol seorang pejabat ( 头品顶戴 ). Warna batu mengindikasikan tingkat kepangkatan seorang pejabat. Dalam beberapa foto lama dari Tjong Yong Hian, batu pada topi kerajaannya telah dicat warna merah.

Bisa terlihat batu berwarna merah di atas topi Tjong Yong Hian

Pada jaman dulu, hanya orang-orang dengan pangkat tertinggi di kekaisaran yang diperbolehkan menghadap Kaisar dan Ratu. Namun beda untuk Tjong Yong Hian, dimana pada tahun yang sama beliau diterima dua kali di Beijing oleh Ratu Ci Xi dan Kaisar Guang Xu. Pertemuan pertama membahas tentang China dan yang kedua mengajukan permohonan pembangunan rel kereta api antara Chao Chow dan Swatow. Beliau memperoleh dukungan mereka dan kemudian melanjutkan membangun rel kereta api tersebut. Ratu Ci Xi sangat terkesan dengan kontribusi beliau. Pada tahun 1903, Ratu beberapa memberikan hadiah, meliputi sebuah kaligrafi China berisi tulisan Shou (寿), yang berarti panjang umur, lukisan China bergambar bunga peoni dan sebuah batu giok berornamen (玉如意) yang berbentuk huruf ‘S’ yang melambangkan sebagai ucapan selamat pada hari ulang tahun beliau.

Lukisan peony dari Ratu CiXi

Untuk kontribusinya bagi pembangunan Medan, beliau pun diberikan sebuah penghargaan dan sebuah jalan yang ramai dinamakan Jalan Tjong Yong Hian pada tahun 1904 (yang sekarang diberi nama Jalan Bogor).

Pada tahun 1905, Tjong Yong Hian diberikan penghargaan 花翎二品頂戴候補四品京堂 dan pada tahun kembali dianugerahi 1907, beliau gelar tingkat ketiga 二品京堂 . Beliau dianugerahi gelar (侍郎衔) kekaisaran sebagai Wakil Menteri oleh Kaisar Qing pada tahun 1909.

Penunjukkan meliputi jabatan sebagai Wakil Konsul China di Pulau Pinang (1894-1896) dan sebagai Komisioner Kekaisaran untuk Pengembangan Industri dan Niaga di Asia Tenggara (Nanyang).

 

 

Arak-arakan dimulai dari rumah Tjong Yong Hian menuju tempat pemakaman di Taman Bunga.

Wafatnya Tjong Yong Hian

Pada tahun 1907, Pemerintahan Kaisar Qing mengangkat Tjong Yong Hian sebagai Komisioner Kekaisaran untuk mengamati kegiatan bisnis di Asia Tenggara sebagai bagian dari langkah persiapan bagi terbentuknya ‘Perusahaan Chang Jiang’. Pada tanggal 11 September 1911, pada saat melakukan persiapan penyerahan laporan ke China, Tjong Yong Hian meninggal di Medan pada usia 61 tahun. Pemerintahan Kaisar Qing menunjuk adiknya Tjong Yao Hian untuk melanjutkan tugas abangnya.

 

Pemakaman Masa persemayaman jenazah dan upacara pemakaman Tjong Yong Hian dihadiri oleh ribuan pelayat dari segala suku dan kebangsaan.

Iring-iringan ucapan berbela sungkawa dari seluruh kalangan sepanjang arak-arakan Tjong Yong Hian

Ribuan penduduk Medan berkumpul di jalan-jalan antara rumahnya di Kesawan dan tempat peristirahatannya yang terakhir di Mao Rong Yuan (Kebun Bunga, Jalan Kejaksaan) untuk menyaksikan upacara pemakaman yang meliputi konvoi mobil- mobil impor dan barisan orang-orang yang membawa plakat-plakat ucapan belasungkawa dan turut berdukacita.

Iring-iringan mengantarkan Tjong Yong Hian menuju tepat peristirahatan terakhir.

Sanak saudara, sahabat dan para pemimpin masyarakat, baik setempat maupun orang asing, mengucapkan rasa belasungkawa atas wafatnya seorang pemimpin Tionghoa yang hebat, yang telah mengubah Tanah Deli menjadi sebuah kota yang makmur. Seorang pria yang membela maupun menyatakan rasa hak-hak kaum yang kurang beruntung, membangun sekolah, rumah sakit dan tempat beribadah, dan juga berkontribusi dalam modernisasi China. Seorang pria yang memang layak memperoleh ucapan selamat tinggal semulia itu.

Mao Rong Yuan (Taman Mao Rong)

Anak Tjong Yong HIan di depan gerbang setelah pemakaman.

Tempat peristirahatan terakhir Tjong Yong Hian adalah di Taman Mao Rong, sebuah taman indah miliknya yang meliputi sebuah kawasan di sekitar Jalan Kejaksaan. Sungai Babura mengalir melintasinya. Tjong Yong Hian juga memiliki sebuah rumah peristirahatan yang didirikan di taman itu. Taman in dinamai berdasarkan banyaknya pohon Banyan (pohon Rong) yang tumbuh di sana. Pohon Banyan (Ficus religiosa) dikenal sebagai pohon Bodhi dalam Buddhisme, dianggap suci dan melambangkan kehidupan abadi. Istri beliau pun dimakamkan di sampingnya ketika wafat beberapa tahun kemudian.

Walaupun bukan lagi sebuah taman yang luas dengan jalan, sungai dan pohon-pohon tinggi, lahan tersebut telah direhabilitasi dan dirawat sebagai sebuah taman yang indah. Makam berwarna merah menyala dari Tjong Yong Hian dan istrinya menempati sebuah bukit kecil yang menghadap sebuah kolam teratai. Pada saat ini Mao Rong Yuan dirawat oleh cicit Tjong Yong Hian, Budihardjo Chandra (Chang Hung Kuin) dan keluarganya.

Taman Bunga Tjong Yong Hian, Medan Sekarang

Alamat: Jl. Kejaksaan, Petisah Tengah, Kec. Medan Petisah, Kota Medan, Sumatera Utara 20151

Tinggalkan komentarmu di sini