Nama Baiknya Terdengar dan Kontribusinya Nyata Dirasakan Hingga ke Dunia: Tjong Yong Hian Series (3) - Perhimpunan Hakka Indonesia Sejahtera

Nama Baiknya Terdengar dan Kontribusinya Nyata Dirasakan Hingga ke Dunia: Tjong Yong Hian Series (3)

Kontribusi untuk Penang: Jadi Wakil Konsul Tiongkok untuk Penang

Pada tahun 1894, Ng Chun Hian (dikenal juga sebagai Kung Tu), ditunjuk menjadi Konsul Jenderal Kekaisaran Qing untuk Singapura. Dia tahu bahwa Tjong Yong Hian sangat memiliki pengalaman menangani pendatang-pendatang Tionghoa di kawasan tersebut dan merekomendasikan kepada penguasa Qing agar Tjong Yong Hian ditunjuk menjadi Wakil Konsul untuk Pulau Pinang, Malaysia, yang waktu itu adalah jajahan Inggris.

Pada masa itu, di Pulau Pinang tidak ada Konsul, semua urusan diplomatik ditangani oleh Wakil Konsul. Selama dua tahun, Tjong Yong Hian menjabat sebagai Wakil Konsul di sana. Beliau membangun hubungan yang baik dengan pejabat setempat dan masyarakat Tionghoa di sana. Sumbangannya untuk pembangunan Pulau Pinang membuatnya menjadi sosok yang sangat dihormati oleh masyarakat Tionghoa setempat.

Pada tahun 1896, Jia Mung Chi menggantikan Tjong Yong Hian sebagai Wakil Konsul di Pulau Pinang. Dia pun akhirnya menjalin kekerabatan dengan Tjong Yong Hian melalui pernikahan di antara anak-anak mereka. Vihara Kek Lok Si Vihara Kek Lo Si adalah salah satu vihara Buddhist terbesar di Asia Tenggara.

Didirikan oleh Yang Mulia Beow Lean, yang pada masa itu adalah kepala biara utama vihara Kuan Im di Pulau Pinang. Pada waktu itu, pemimpin masyarakat Tionghoa Pulau Pinang diminta untuk mendukung pembangunan vihara tersebut. Pendukung dana utama pada tahap awal adalah Tjong Yong Hian, Tjong Bi Shi, Tai Kee Yoon, Cheah Choon Seng dan Chung Keng Kwee Pembangunan vihara dimulai pada tahun 1891 dan selesai pada tahun 1905. Hari ini, patung seukuran badan dan tulisan dari lima orang penyumbang awal ini masih bisa dijumpai di lantai atas Menara Buku- buku Suci di vihara Kek Lok Si. Di samping itu, pahatan tulisan karya Tjong Yong Hian pada bongkahan batu besar di taman vihara tersebut masih dapat dilihat hingga hari ini.

Pembangunan Rel Kereta Api Chao-Shan, Dinasti Qing, Tiongkok

Barangkali, salah satu upaya Tjong Yong Hian yang paling berani adalah investasi pada Rel Kereta Api Chao-Shan. Tjong bersaudara ingin mendukung upaya pembangunan infrastruktur Mereka memilih kawasan pantai di sebelah tenggara China karena kawasan tersebut mempunyai ekonomi Secara spesifik, rel kereta api tersebut akan menghubungkan kawasan dan kota Swatow (Shan Tou). Dari sini, diharapkan rel kereta api tersebut akan dilanjutkan ke seluruh China.

Rel kereta api ini adalah pilot proyek pada merupakan rel kereta api pertama yang didanai oleh orang China perantauan. Pada waktu itu, Tjong Bi Shi telah ditunjuk oleh Kekaisaran Qing sebagai Kepala Perencanaan Pembangunan Rel Kereta Api Guangdong, yang meliputi Rel Kereta Api Wuhan dan Rel Kereta Api Fu Shan, di Guangdong. Dia menerima instruksi dari pemerintah Qing untuk di China. makmur. yang Chao-Chow masa itu, dan kembali ke China. Tjong Bi Shi meninggalkan Batavia kembali ke China untuk mendiskusikan konstruksi jalan kereta api ini.

Dia mengundang Tjong Yong Hian untuk menemaninya ke China untuk membahas rencana ini. Tjong Yong Hian menggunakan kesempatan ini untuk secara menyampaikan surat kepada pemerintah Qing membangun menghubungkan kota Chao-Chow dan kota Swatow yang terletak di bagian hilir sungai Han Jiang. Pemerintah langsung izin memohon untuk kereta api yang rel Qing permohonan ini. Tjong Yong Hian segera mendirikan Perusahaan Rel Kereta Api menerima Swatow dan mulai Swasta Chao Chow menjual surat saham. Surat saham tersebut mempunyai foto Tjong bersaudara.

Rel kereta api ini berbiaya sekitar 3.020.000 tael perak. Tjong bersaudara masing-masing mendanai sekitar sejuta tael perak. Banyak pengusaha lain yang ikut mendanai untuk mendukung proyek ini. Pada Agustus 1904, insinyur kenamaan China, Chan Tian Yu bertanggung jawab untuk mengukur dan merancang rel kereta api tersebut. Pada bulan September, proyek ini telah dimulai. Rel kereta api ini akhirnya diselesaikan pembangunannya pada bulan Oktober 1906.

Pada tanggal 25 November 1906, kereta api melintasi rel tersebut dalam sebuah perjalanan resmi. Menteri Transportasi pemerintah Qing, Mon Sien Fai, Mayor Tjong Yong Hian, putra-putranya dan Tjong Yao Hian menghadiri upacara peresmian rel kereta api ini, yang menghubungkan kota Swatow dan Chao Chow. Panjang keseluruhan rel kereta api ini adalah 42,1 km, mulai dari stasiun di gerbang barat kota Chao Chow hingga ke kota Swatow.

Dengan terbangunnya rel kereta api ini, bagian timur laut propinsi Guangdong (meliputi Meizhou) dan Chao Chow tumbuh berkembang menjadi kawasan yang makmur. Tjong Yong Hian ditunjuk sebagai Managing Director General. Rel kereta api Chao-Chow- Swatow yang dibangun melintasi jalur pertukaran komoditi antara kawasan perkotaan dan pedesaan, memainkan peran penting dalam transportasi. Projyek ini dibangun dengan tujuan mengangkut penumpang, dengan jumlah penumpang yang diangkut mencapai sekitar 184 juta per tahun, sebanyak enam puluh ribu ton barang diangkut oleh rel kereta api ini setiap tahunnya. Pada tahun 1939, setelah beroperasi selama 33 tahun, rel-rel baja tersebut dibongkar pada rute utama masa penjajahan Jepang atas China.

Kontribusi untuk Amal

Seperti lakukan di Medan, Tjong bersaudara juga menyumbang secara besar-besaran kepada China. Pada saat pemerintahan Qing angkatan lautnya ataupun rumah-rumah sakit di ibu kota, Tjong bersaudara menjadi penyumbang. Sewaktu provinsi Shaanxi mengalami kemarau yg parah, paceklik menjalar ke seluruh ibu kota Beijing. Tjong bersaudara memberikan bantuan sebesar 300,000 Yuan untuk mendirikan asosiasi ‘Jiang Nan Quan Ye Hui’ dalam pemerintahan Dinasti Qing.

Pada tahun 1902, Tjong Yong Hian menyumbang 1 juta taels (uang perak) untuk ikut membangun Sekolah Militer / Sekolah Umum di Guangzhou. Sekolah Umum Songkou juga menerima sumbangan sebesar 5000 taels.

Beliau juga menyumbang sebesar 100.000 yuan kepada Universitas Hongkong dan memberikan sebuah gedung bertingkat dua kepada Universitas Liang Nam di Guangzhou. Sumbangan juga diberikan kepada Sekolah Dasar Hainam.

Tjong bersaudara juga memberikan dana untuk pembangunan dan dana pemeliharaan fasilitas infrastuktur umum dan fasilitas sosial, termasuk membangun jalan-jalan, tanggul-tanggul pada Sungai Hang Kang di China. Seperti halnya di Medan, mereka juga mendirikan tempat- tempat perlindungan untuk yang kurang mampu di Songkou dan di kota Swatow.

Proyek konstruksi mereka lainnya termasuk Jembatan Kian Fung di Lung Nyan, Jembatan Wu Sing, Rumah Sakit Tunghua di Hong Kong, Rumah sakit Chiem Sui Pu di Guangdong, Palang Merah Shanghai, Rumah Beribadah Kong Fu Ci dan lain-lainnya.

Untuk mengenang leluhur marga Tjong mereka menyediakan dana untuk menerbitkan buku Silsilah Marga Tjong untuk memperbaiki rumah ibadah leluhur Marga Tjong, dan untuk pelaksanaan upacara-upacara sembahyang leluhur.

Kontribusi untuk Kebudayaan dan Sastra

Pada tahun 1901 dan 1911, Tjong bersaudara menyediakan dana untuk mendukung penerbitan karya sastra dari 400 penyair dan penulis dari era Dinasti Song, Dinasti Ming dan Dinasti Qing Tulisan sastra tersebut dihimpun dalam satu buku berjudul ‘Moi Sui Si Quan yang terdiri dari 13 jilid koleksi puisi zaman itu dan zaman klasik.

Sewaktu lembaga mahasiswa Dinasti Qing menyelesaikan buku’Sejarah Jiayin Chou, yang terdiri dari 32 jilid, Tjong bersaudara mendanai biaya percetakannya. Tiong Yong Hian juga mendanai biaya percetakan buku Koleksi Puisi’Gu Siang Kok Si Sip’ hasil karya penyair Jap Pit Hua dari Meixian.

Setelah Tjong Yong Hian mengundurkan diri sebagai Vice Consul Penang, dia menulis mengenai adat masyarakat Penang, mencatat hal-hal Konsular China dan memberikan gambaran ikhtisar negara-negara di seluruh dunia dalam buku-buku berjudul’Hoi Guo Kung Yi Shi Lu’ (6 jilid) dan’Hoi Guo Kung Yi Chap Lu’ (3 jilid). Dalam buku-buku ini juga terdapat tulisan dari pejabat-pejabat yang mendukung pembaharuan, seperti Chong Ci-Tung, Xie Fukcen, Li Fung-chong dan juga surat-surat kepada pemerintahan Kerajaan serta puisi oleh penulis-penulis China. Kedua buku ini mempunyai nilai sejarah yang tinggi untuk generasi masa depan komunitas Tionghoa.

Tinggalkan komentarmu di sini