Lok Sui Khai Bo Kon 落水抬禾秆 - Saat Hujan Memikul Jerami - Perhimpunan Hakka Indonesia Sejahtera

Lok Sui Khai Bo Kon 落水抬禾秆 – Saat Hujan Memikul Jerami

Oleh tim Jendela Hakka

Baru baru ini ada sahabat yang bercerita betapa senangnya dia ketika memperoleh pekerjaan yang sangat dia dambakan. Baginya pekerjaan tersebut sangat mudah dan sudah biasa dia kerjakan. Namun sehubungan kurangnya perhitungan dan pengaturan waktu, pekerjaan tersebut tidak dapat selesai pada saatnya. Hal ini membuat pemesan menjadi marah. Dia juga mendapat tekanan yang luar biasa.

Dalam ruang lingkup yang lebih luas, kita bisa melihat usaha pemerintah yang berupaya membawa negara ini mengejar berbagai ketinggalan. Jalan tol dan jalan trans dibangun untuk membuka wilayahwilayah yang terpencil dan sulit dijangkau. Infrastruktur dalam kota dibangun untuk mengurai kemacetan dan menggerakkan ekonomi. Dengan target dan perencanaan yang tentunya sangat terperinci, semuanya diharapkan selesai pada waktu yang sudah ditentukan. Namun seringkali kita mendapati target tersebut meleset. Selalu saja muncul rintangan di tengah jalan. Entah itu masalah pembebasan lahan, kecelakaan kerja dan sebagainya. Hambatan yang muncul tentu saja menjadi beban tambahan dalam segi pembiayaan, waktu, maupun tenaga.

Ada sebuah pepatah Hakka “Lok Sui Khai Bo kon” —Saat Hujan Memikul Jerami. Pepatah ini melukisan suatu pekerjaan yang sebetulnya ringan, yakni memikul jerami kering setelah panen selesai, maksudnya untuk pakan ternak di rumah, namun di tengah jalan hujan sehingga jerami tersebut basah dan menjadi berat dalam pikulan.

Membaca kisah pengantar di atas, nampaknya pepatah Hakka ini masih relevan hingga jaman now. Dalam kehidupan kita sehari hari banyak peristiwa atau pekerjaan yang kita anggap sepele dan ringan untuk dikerjakan, namun dalam pelaksanaannya menjumpai hal-hal yang tak terduga. Pepatah ini juga bisa dimaknai bahwa suatu pekerjaan yang dilaksanaan bukan pada waktu yang tepat akan menjadi beban.

Kegiatan sosial dalam sebuah perkumpulan atau organisasi adalah pekerjaan yang positif dan patut mendapat dukungan. Bagi perkumpulan yang sudah biasa mengadakan kegiatan sosial, mestinya pekerjaan ini gampang dilaksanakan. Namun terkadang ada masalah yang muncul dan menghambat. Misalnya, kegiatan sosial yang sudah direncanakan jauh-jauh hari dengan baik, menjelang hari H tibatiba saja muncul kesulitan atau hambatan baru. Pekerjaan mudah dan ringan menjadi pekerjaan berat dan sulit.

Semua pekerjaan pasti banyak rintangan dan kesulitan, namun kita berharap agar rintangan-rintangan tersebut jangan menjadi penghambat untuk tetap berkarya bagi kemanusiaan, lingkungan dan kehidupan sosial.

Awal bulan Agustus lalu, beberapa kali bencana gempa bumi melanda Pulau Lombok, NTB. Gempa itu telah memporak-porandakan kawasan tersebut. Banyak nyawa hilang serta rumah hancur. Dalam kondisi perekonomian yang lesu saat ini, sungguh berat rasanya menyisihkan dana untuk menolong para korban bencana tersebut. Namun hal ini tidak menjadi halangan buat mereka yang rela untuk ikut memikul beban yang diderita oleh para korban bencana. Banyak gerakan mengumpulkan sumbangan dari masyarakat di seluruh Nusantara.

Di layar kaca, Presiden sudah menegaskan agar semua bantuan sampai ke tangan yang membutuhkan. Kita berharap tidak muncul hambatan-hambatan bak hujan yang membasahi jerami kering.

Banyak kiasan atau pepatah Hakka yang berdasarkan kondisi keseharian dan lingkungan pekerjaan. Karena orang Hakka mayoritas tinggal di daerah pergunungan dan berladang, tak heran bayak pepatah yang berkaitan dengan hal tersebut.

Pepatah “Lok Sui Khai Bo kon” ini juga mengajarkan kita kearifan dalam kehidupan:

1. Perencanaan.Selalu melakukan perencanaan yang matang dalam bekerja.

2. Waktu.Melaksanakan pekerjaan dengan waktu tepat maka pekerjaan akan sangat diringankan.

3. Kemampuan diri.Selalu mengukur kemampuan diri dalam memikul beban pekerjaan yang kita terima.

4. Resiko.Bahwa setiap pekerjaan yang kita lakukan pasti ada resiko yang harus kita tanggung.

Dengan prinsip perencanaan yang matang, waktu yang tepat, serta pertimbangan kemampuan diri serta siap menghadapi resiko, maka tantangan seberat apapun akan mampu dihadapi. Inilah yang menjadi “hakka cin sin”—semangat Hakka.

落水抬禾秆

最近,一位朋友告诉我,当他找到一份他真正想要的工作时,他有多开心。对他而言,这项工作非 常简单,因他已经习惯了。但是,由于缺乏计算和时间管理,工作无法及时完成,这让授予工作者很生气, 精神上也感受到很大的压力。

在更广泛的范围内,我们可以看到政府努力使这个国家解决各种滞后,展开了收费公路(jalan tol) 和过境公路的建设,一切都是为了打开偏远和难以到达的区域。城市内部基础设施旨在解决塞车问题并推 动经济发展。目标和规划当然非常详细,预计一切都将在指定时间完成。但我们经常发现很多计划都错过 了目标,设施其间总会出现各种障碍,无论是征购土地或工人工作安全失误等的问题都出现障碍,这当然 是融资,时间和精力方面的额外负担。

有客家谚语说“Lok Sui Khai Bo kon” -落水抬禾秆。这句谚语意思是说:一份工作,本是轻轻的, 就如抬扛收割完后,打算喂养家畜的轻轻干禾秆,但路途中禾秆被雨淋湿了,成为重轭的担子。

阅读上面的故事,证明客家谚语到现在仍然适用。在我们的日常生活中,我们认为许多事件或工作 都是微不足道的,但是在实践中我们会遇到意想不到的事情。这句谚语也可以解释为:工作不适时,将成 为重负担。

社团或组织中的社会活动本是积极的工作,值得支持。对于已习惯于举办社交活动的社团,这项工 作应该是轻而易举的,但有时会出现问题和阻碍。例如,已计划好的社交活动在预期日子里突然出现新的 提案或遇到故障,本是轻而易举的工作变成重而困难的工作。

任何工作必有障碍,必有困难,我们希望这些障碍不会成为为人类、环境和社会活动而努力的障碍。 8 月初,几次地震袭击了西奴山达拉与龙目岛,地震摧毁了该地区,造成许多人丧生,房屋被毁。 在目前经济不景气的情况下,很难拨出资金来帮助灾民,但这对那些愿意分担灾难受害者所遭受的重担的 人是不会是负担的,他们收集了整个群岛社区的捐款活动。

总统在电视屏幕上已明确表示所有援助都必须交给有需要的人。我们不希望有出现“落水抬禾秆” 般的障碍。

许多客家人的比喻或谚语都是基于日常生活和工作环境,这是由于大多数客家人是生活在山区和农 场的,所以难怪很多谚语是和实际生活有相关的。

“落水抬禾秆”这句谚语是生活中的智慧:
1. 规划。在工作中要事先做好精细的计划。
2. 时间。适时进行工作将大大减轻工作量。
3. 能力。接收工作时始终要衡量自己的能力。
4. 后果。任何工作必有我们要承担的后果 。

凭借精心策划,恰时应用,考虑自我能力和准备面对后果的原则,任何重大挑战必被战胜的。这就是 “semangat Hakka.” – 客家精神。

 

Tinggalkan komentarmu di sini